Pernah merasa waktu berhenti dan sisakan kau di tengah poros buana? Sebagai satu-satunya jati yang tak bergeming sedikit pun. Musim boleh berganti, hitungan waktu bisa jadi masih berjalan, dengan lalu lalang mereka di sekitarmu, membentuk patron yang sudah-sudah. Tapi kamu masih membeku biru atau malahan telah menjadi batu. Kamu melihat tapi tidak lagi merasa. Jauh dari perih dan pedih yang mungkin sudah terlewati. Dan sekarang nyatalah hampa, sama dengan probabilitas zat asam di angkasa luar.
Kata orang keadaan itu adalah shock. Atas kejadian yang jauh dari bayangan kita, mungkin tak pernah terpikir barang sejenak, atau melintas sekalipun. Bukannya tidak pasrah, bukannya tidak menerima. Tapi sungguh rasa seperti ditimpa palu godam. Sisakan kebingungan yang tak akan pernah berujung.
Monday, February 28, 2005
Teraju
Rupanya masih bisa aku menangis untukmu. Entah untuk aku yang terbuang, kamu yang berdusta, atau kita yang hancur berantakan. Ingin mengutuk maskara kesukaanku yang kembali luntur, jejakkan hitam disana sini, membentuk suatu aliran dari empat sudut mata.
Saturday, February 26, 2005
Massage please..
Ah, pegalnya sepasang kakiku..sayang, kesini dong pijetin aku=) bangun jam tujuh pagi dan mulai hunting hal2 standar kota belanja. Ternyata selain ikea, cuma toko cd yang bisa bikin aku amaze. Tiga lantai cing! Mampus deh..mana repot bentar2 mikirnya mesti pake dollar hahaha beli gak ya, beli gak ya..akhirnya beli deh cd2 d best. Satu yang masih menjadi pertimbangan adalah cd dashboard yg akustik..hiks, tapi mahal='( maksudnya belanja2 yg lain dulu, klo masih ada dana tersisa langsung lari kesana hehehe ya udah deh mau chat dulu =)
ps : bu de, kok milkanya gak ada yaa..padahal udah cari kemana-mana hiks..
ps : bu de, kok milkanya gak ada yaa..padahal udah cari kemana-mana hiks..
Friday, February 25, 2005
My fear
Betapa mudahnya mencintai. Hanya memberi tanpa harap menerima. Hanya menikmati pesona yang ada, tanpa harus memiliki. Hanya bercinta dengan udara sekitar, tanpa harus mengurungkan atmosfer atasnya. Hanya mencintai tanpa harus dicintai kembali.
Betapa sulitnya mencintai. Bila sudah diwarnai dengan keinginan, harapan, rasa takut, rasa cemburu, rasa memiliki. Kita akan terlambung lalu jatuh telak. Kita akan bermimpi lalu terbangun kaget. Kita akan merasa memiliki, lalu kehilangan dan mati. Kita akan cemburu, yang diam-diam memakan kita sampai habis. Dan terutama kita akan makan hati, bila terlalu takut dan terus menerus takut. Bahkan hanya untuk ungkapkan rasa.
Betapa sulitnya mencintai. Bila sudah diwarnai dengan keinginan, harapan, rasa takut, rasa cemburu, rasa memiliki. Kita akan terlambung lalu jatuh telak. Kita akan bermimpi lalu terbangun kaget. Kita akan merasa memiliki, lalu kehilangan dan mati. Kita akan cemburu, yang diam-diam memakan kita sampai habis. Dan terutama kita akan makan hati, bila terlalu takut dan terus menerus takut. Bahkan hanya untuk ungkapkan rasa.
Sprinter
Abba, aku lelah. Nafasku semakin memendek dan sudah pasti umurku semakin menipis. Aku tidak ingin terus menerus berlari seperti ini. Kaki pegal, ototku nyeri dan kepalaku pening. Aku merasakan gejolak aneh dalam perut, dan mataku berkunang-kunang. Aku ingin berhenti. Bukan dalam beberapa jenak yang berlainan. Aku ingin berhenti. Senderkan diri pada tiang pun dinding yang cukup kokoh tuk lindungiku nanti. Tapi tak dapat kulihat kevas itu, dia masih rangka. Bisa jadi dia baja, tapi dia masih rangka. Dan aku rasa aku tidak punya waktu yang cukup panjang untuk itu. Kepada abba dan lewat dialah aku bersandar. Semoga waktu itu cepat datang.
Thursday, February 24, 2005
So damn confuse..
Aku bingung, tadi mas didit bilang..kalo lg gak mood jgn maksain nulis puisi =) ah, aku selalu bersyukur pernah kerja praktek di tempatnya, karena bila tidak mungkin aku tidak pernah mengenal blog =p beneran deh, mungkin bisa gila aku setiap kali gundah gulana gak tau mesti cerita atau tulis kemana. Bisa2 lemariku penuh dengan diary yang mungkin isinya lebih private, wek! =p
Terima kasih kepada Mba Mona, seorang PA handal yang kukenal di Trans TV. Dia yang pertama kali membuatkanku blog pada bulan desember 2003. Tidak lupa Muhammad Fauzan Mukrim, abangku sayang yang tidak pernah henti menumpulkan serangan kata2ku. Sampe sekarang masih suka amaze tuh kalo aku main ke blognya..
Ah, malah jadi lupa apa yang mau aku tulis tadi. Oia, senja tadi sengaja ke ui buat liat fisip awards, dea sm temennya nyanyi..wow, nice voice de! Really..gak basa basi bo. I just never do such thing. Terus nunggu sayang sholat di kantin..panas juga ye, tapi banyak surprise gt. Such as ketemu temen2 lama..ada maggie, jc, and others yg maaf gw lupa namanya =p
“Ngapain aja sekarang, ti? Denger2 udah lulus..”
“Yup, sekarang lg mau ambil MM nih, sama iseng2 nulis buku”
“Enak ya, gak perlu kerja kantoran gitu..klo gw sih..” and then blablabla..
Mungkin dipikir enak kali ya, udah jelas gitu hidup mau ngapain. Tapi sungguh teman, aku sedang bingung bukan kepalang. Untuk menjalani kuliah MM yang sudah di depan mata atau tidak. Karena aku jujur tidak begitu tertantang, dan gelar itu terutama akan menguntungkan bila aku kerja kantoran (sepertinya itu tidak ada di jiwaku). Untuk mengambil psiko ui atau tidak, karena aturan matrikulasi yang ajaib sebelum tes masuk. Padahal aku sungguh ingin belajar, demi kepuasan batin sendiri dan bukan untuk cari kerjaan atau uang. Untuk menekuni rencana buka toko merchandise band rock + studio tattoo piercing atau tidak. Untuk cepat2 menyelesaikan buku pertama atau tidak. Untuk menerima tawaran British Petroleum bekerja di Papua atau tidak (kalau ada yang tertarik, minimal gaji 10 jt bo!).
Jadi intinya..aku pusiiiingggg…aaaarrrgghhh!! Hidup liburan..jalan2 dulu ah dua hari. Baik2 ya sayang di Jakarta.
Terima kasih kepada Mba Mona, seorang PA handal yang kukenal di Trans TV. Dia yang pertama kali membuatkanku blog pada bulan desember 2003. Tidak lupa Muhammad Fauzan Mukrim, abangku sayang yang tidak pernah henti menumpulkan serangan kata2ku. Sampe sekarang masih suka amaze tuh kalo aku main ke blognya..
Ah, malah jadi lupa apa yang mau aku tulis tadi. Oia, senja tadi sengaja ke ui buat liat fisip awards, dea sm temennya nyanyi..wow, nice voice de! Really..gak basa basi bo. I just never do such thing. Terus nunggu sayang sholat di kantin..panas juga ye, tapi banyak surprise gt. Such as ketemu temen2 lama..ada maggie, jc, and others yg maaf gw lupa namanya =p
“Ngapain aja sekarang, ti? Denger2 udah lulus..”
“Yup, sekarang lg mau ambil MM nih, sama iseng2 nulis buku”
“Enak ya, gak perlu kerja kantoran gitu..klo gw sih..” and then blablabla..
Mungkin dipikir enak kali ya, udah jelas gitu hidup mau ngapain. Tapi sungguh teman, aku sedang bingung bukan kepalang. Untuk menjalani kuliah MM yang sudah di depan mata atau tidak. Karena aku jujur tidak begitu tertantang, dan gelar itu terutama akan menguntungkan bila aku kerja kantoran (sepertinya itu tidak ada di jiwaku). Untuk mengambil psiko ui atau tidak, karena aturan matrikulasi yang ajaib sebelum tes masuk. Padahal aku sungguh ingin belajar, demi kepuasan batin sendiri dan bukan untuk cari kerjaan atau uang. Untuk menekuni rencana buka toko merchandise band rock + studio tattoo piercing atau tidak. Untuk cepat2 menyelesaikan buku pertama atau tidak. Untuk menerima tawaran British Petroleum bekerja di Papua atau tidak (kalau ada yang tertarik, minimal gaji 10 jt bo!).
Jadi intinya..aku pusiiiingggg…aaaarrrgghhh!! Hidup liburan..jalan2 dulu ah dua hari. Baik2 ya sayang di Jakarta.
Perdebatan bodoh
Why bad things happen to good people? Bacaan yang cukup menarik. Lagi-lagi ada kubu baik dan jahat yang berperang. Pergumulan kali ini terjadi antara nalar dan iman(maaf, maksudku agama..karena keduanya tidaklah sama). Apakah kita harus menelan bulat-bulat keseluruhan kalimat yang ada di kitab, ataukah menggabungkannya dengan nalar. Di kitab tertulis, orang benar tidak akan ditimpa oleh bencana apapun, tetapi orang fasik akan senantiasa celaka (Amsal 12:21). Sedangkan aku sering sekali mendengar perkataan, orang jahat umurnya panjang dan orang baik cepat meninggal.
--permisi numpang lewat sebentar--
Terjadi unjuk rasa mahasiswa yang berbuntut bentrok dengan aparat. Ada mahasiswa yang kena gas air mata, ada polisi yang kena sambit batu bata. Mereka sama-sama manusia, yang punya kepentingan masing2. Merasa sama-sama merasa benar. Lalu muncullah media massa, memberitakan dengan frame yang berbeda-beda. Dan mau bilang apa, pembaca lebih suka melihat 'mahasiswa dianiaya petugas' sebagai headline. Jadi muncullah berita2 itu..
Jadi maksudku, siapa bilang orang yang kurang baik (baca:tidak ikuti aturan Tuhan dan sesama) tidak mengalami kesusahan, penderitaan, dan mati muda? Hanya terdengar lebih ironis kan kalau kita bilang, orang baik banyak tertimpa hal-hal buruk. Seakan-akan ingin menguji kesabaran yang di atas, betapa tidak adilnya dunia.
Haruskah dunia adil? Hitam dan putih melulu? Dengan neraca yang berimbang melulu? Memastikan dunia ini adil aku rasa hanyalah suatu penguatan terhadap iman yang mulai goyah. Bila disakiti orang maka kita berharap dalam hati, pasti dia akan mendapat balasannya. Karena dunia dan Dia pasti adil. Lalu apa bedanya kita dengan dia yang menyakiti kita?
Nalar : siapapun pemainnya, permainan akan berlangsung adil dan selalu ada probabilitas menang pun kalah di setiap pihak.
Agama : berbuat baik akan selamat, berbuat jahat akan celaka.
(Tapi tunggu, bukankah Avicenna atau Ibnu Sina menemukan nalar dalam agama? Yang bisa membela dan menentang agama, dan kemudian dipakai untuk menjalankan lembaga keagamaan?) (Mungkin inilah yang dimaksud dari abu kembali menjadi abu, yaitu kejadian nyata--kepercayaan--nalar--agama--nalar--kepercayaan--kejadian nyata)
Aku, yang dengan bodohnya membuat tulisan ini : pusing juga ya bo..yah, aku sih cuma berpegang pada apa yang terjadi, itulah yang terbaik menurutNya. Mau dunia adil atau enggak, bukan urusanku. Tapi pasti apa yang belum terlunasi disini, nanti akan ditagih juga. Waktu Dia dan bukan waktu manusia.
Kalian : ini orang edan nulis apa ya, kebanyakan nganggur kali ya=p
Lalu Dia : (kita gak denger apa2, wahyu kan gak dateng begitu aja) (bisa jadi tertawa..ya, pasti sedang tertawa..)
--permisi numpang lewat sebentar--
Terjadi unjuk rasa mahasiswa yang berbuntut bentrok dengan aparat. Ada mahasiswa yang kena gas air mata, ada polisi yang kena sambit batu bata. Mereka sama-sama manusia, yang punya kepentingan masing2. Merasa sama-sama merasa benar. Lalu muncullah media massa, memberitakan dengan frame yang berbeda-beda. Dan mau bilang apa, pembaca lebih suka melihat 'mahasiswa dianiaya petugas' sebagai headline. Jadi muncullah berita2 itu..
Jadi maksudku, siapa bilang orang yang kurang baik (baca:tidak ikuti aturan Tuhan dan sesama) tidak mengalami kesusahan, penderitaan, dan mati muda? Hanya terdengar lebih ironis kan kalau kita bilang, orang baik banyak tertimpa hal-hal buruk. Seakan-akan ingin menguji kesabaran yang di atas, betapa tidak adilnya dunia.
Haruskah dunia adil? Hitam dan putih melulu? Dengan neraca yang berimbang melulu? Memastikan dunia ini adil aku rasa hanyalah suatu penguatan terhadap iman yang mulai goyah. Bila disakiti orang maka kita berharap dalam hati, pasti dia akan mendapat balasannya. Karena dunia dan Dia pasti adil. Lalu apa bedanya kita dengan dia yang menyakiti kita?
Nalar : siapapun pemainnya, permainan akan berlangsung adil dan selalu ada probabilitas menang pun kalah di setiap pihak.
Agama : berbuat baik akan selamat, berbuat jahat akan celaka.
(Tapi tunggu, bukankah Avicenna atau Ibnu Sina menemukan nalar dalam agama? Yang bisa membela dan menentang agama, dan kemudian dipakai untuk menjalankan lembaga keagamaan?) (Mungkin inilah yang dimaksud dari abu kembali menjadi abu, yaitu kejadian nyata--kepercayaan--nalar--agama--nalar--kepercayaan--kejadian nyata)
Aku, yang dengan bodohnya membuat tulisan ini : pusing juga ya bo..yah, aku sih cuma berpegang pada apa yang terjadi, itulah yang terbaik menurutNya. Mau dunia adil atau enggak, bukan urusanku. Tapi pasti apa yang belum terlunasi disini, nanti akan ditagih juga. Waktu Dia dan bukan waktu manusia.
Kalian : ini orang edan nulis apa ya, kebanyakan nganggur kali ya=p
Lalu Dia : (kita gak denger apa2, wahyu kan gak dateng begitu aja) (bisa jadi tertawa..ya, pasti sedang tertawa..)
Wednesday, February 23, 2005
Masih dalam tanda kurung
Selamat pagi, bagaimana kabarmu? Seperti sudah lama kita tidak bertemu, maaf mungkin aku jarang mengingatmu. Habis bagaimana, aku sungguh terlena dalam setiap senin hingga senin yang memabukkan. Sungguh ia mengalahkan segelas ‘screaming orgasm’, dan bahkan aku tak perlu turut meraciknya. Tapi entah kenapa aku terlontar kembali padamu, bahkan di pagi yang secerah ini. Sampai nanti, mungkin di ujung hari banyak yang ingin kuceritakan padamu, sepi.
2 x 24 jam nanti
Ingin bersama kamu, yang indah, tak tergusur jarum jam yang berdetik..
Ingin bersama kamu, yang indah, dalam setiap tatap mata yang beku..
Ingin bersama kamu, yang indah, tahbiskan kita dalam fikir yang tak terucap..
Ingin bersama kamu, yang indah, dalam setiap tatap mata yang beku..
Ingin bersama kamu, yang indah, tahbiskan kita dalam fikir yang tak terucap..
Tuesday, February 22, 2005
Kama Taala
Ingin meredam rasa rikuh, sembunyikan sejenak rasa yang menggebu. Aku tahu betapa jujurnya aku saat mereka membiusku. Tak terkendali dalam fikir dan lepas bebas begitu saja dalam rasa. Sebelum tidur, sempat kubisikkan sesuatu..kama tak seharusnya berbeban berat. Kama layaknya ringan seperti bulu, terbawa bayu kapan saja dan jatuh pada siapa pun. Memberi tanpa harus menerima, dengan rela dan ikhlas. Namun terkadang tanpa disadari, guliran dari sudut mata memberi massa pada kama. Bermuatan penuh hingga semua terasa lambat.
Let's start again
Alur yang tak pernah terduga. Saat kau kira tanda titik sudah di depan mata, tiba2 tombol tab bergerak cepat, memundurkan kata2 dalam hitungan detik, dan semua runtuh dalam sekejap. Tak mengapa, biar saja memakan banyak waktu. Aku tak butuh hitungan itu, karena aku sudah bisa merekonstruksi lagi. Sedepa dua depa, di atas yang pernah ada!
Sunday, February 20, 2005
Tanpa ruh, kali ini..
Seharusnya aku tidur, setidaknya mencoba untuk memejamkan mata. Tapi aku tak bisa, seluruh indera menolak untuk beristirahat. Mereka malahan mendengungkan suatu irama yang tak kumengerti. Lalu aku duduk, mengambil posisi bersila, dan memejamkan mata. Dengungannya semakin kuat, meniupku condong sedikit ke depan dan sedikit lagi ke belakang. Maaf aku masih belum mengerti, kalian bersabarlah..
Tiba-tiba senyap, tidak ada setetes suara pun. Lalu aku tahu, inilah saatnya aku bercerita. Oh dia yang mempunyai ratusan masehi tak terhingga, berilah waktu barang sejenak untuk aku berkeluh kesah. Aku ini bingung, tidak tahu harus menentukan rasa seperti apa. Aku tidak kecewa, aku tidak putus asa, aku tidak marah, aku tidak sedih, aku tidak senang, aku tidak bergairah, dan aku tidak hidup. Oh dia segala yang maha, berikanlah aku sedikit petunjuk. Untuk menentukan jilid apa yang terbaik, sebagai penutup yang sempurna dari kisah yang kubuat atas kehendakmu.
Kemanakah perempuan keras kepala itu,
yang mencairkan gunung es dengan kesabarannya?
Kemanakah perempuan ambisius itu,
yang ingin mencapai titel tertinggi sebelum umur 30?
Kemanakah perempuan pemberontak itu,
yang merasa dirinya adalah pria yang terjebak dlm tubuh perempuan?
Kemanakah aku yang kukenal,
aku yang kubanggakan,
dan aku yang kusembunyikan..??
Tiba-tiba senyap, tidak ada setetes suara pun. Lalu aku tahu, inilah saatnya aku bercerita. Oh dia yang mempunyai ratusan masehi tak terhingga, berilah waktu barang sejenak untuk aku berkeluh kesah. Aku ini bingung, tidak tahu harus menentukan rasa seperti apa. Aku tidak kecewa, aku tidak putus asa, aku tidak marah, aku tidak sedih, aku tidak senang, aku tidak bergairah, dan aku tidak hidup. Oh dia segala yang maha, berikanlah aku sedikit petunjuk. Untuk menentukan jilid apa yang terbaik, sebagai penutup yang sempurna dari kisah yang kubuat atas kehendakmu.
Kemanakah perempuan keras kepala itu,
yang mencairkan gunung es dengan kesabarannya?
Kemanakah perempuan ambisius itu,
yang ingin mencapai titel tertinggi sebelum umur 30?
Kemanakah perempuan pemberontak itu,
yang merasa dirinya adalah pria yang terjebak dlm tubuh perempuan?
Kemanakah aku yang kukenal,
aku yang kubanggakan,
dan aku yang kusembunyikan..??
Subscribe to:
Posts (Atom)